Sang Pencerah adalah sebuah film yang menceritakan tentang perjalanan hidup Darwis hingga berganti nama menjadi Ahmad Dahlan dan puncaknya saat mendirikan Muhammadiyah. Kali ini tidak akan mereview isi film, karena sudah banyak blog2 lain yang dengan detil dan teliti mengkritisi isi/jalan cerita film tersebut. Saya hanya menuliskan kesan saya sebagai penonton awam mengenai film besutan Hanung Bramantyo ini.

Mungkin karena masih masa liburan, penontonnya lumayan membludak. Sehingga hampir full pada saat kemarin menontonnya (16/09). Ini dia sedikit kesan2nya:

Film-Sang-Pencerah

Bagusnya:

  • Fotografinya bagus, menampilkan gambar2 indah.
  • Musik Orkestranya mantab.
  • Cerita berjalan cepat.
  • Ada lucunya, ada seriusnya.
  • Makeupnya bagus juga. Lukman Sardi wajahnya pas/mirip Akhmad Dahlan.

Sedikit Kelemahannya:

  • Efek komputer terutama layar birunya kurang menyatu.
  • Yang menampilkan seluruh wilayah Kauman kayak maket mainan.
  • Jalannya film seperti klip2/potongan2 yang dijadikan satu. Serta ada beberapa bagian yang bikin ngantuk.
  • Endingnya rada ngambang, apakah mungkin ada sambungannya.
  • Kebanyakan adegan indoor dan background gelap.
  • Bangunannya ada yang keliatan usang. Padahal kalau jaman segitu seharusnya masih baru.
  • Kurang besar landscape yang ditampilkan. Bagusnya kalau menampilkan alun2, tugu, bringharjo tempo dulu dari udara secera menyeluruh, tp ini susah juga bikinnya. Jadi bisa dimaklumi.

Membuat film dengan setting tempat tempo dulu memang rada susah, karena harus membangun set sesuai keadaan waktu tersebut. Namun sekarang bisa digunakan cgi/efek komputer secara penuh untuk mengisinya. Contohnya seperti miniseri Spartacus, dimana bisa menampilkan landscape kota Romawi jaman gladiator. Seperti juga di film Avatar yang menampilkan hutan planet pandora dengan cantik.

Para pemain hanya di studio saja dengan menggunakan layar biru. Tapi ini juga tidak mudah dan pembuatannya perlu dana besar. Di Sang Pencerah sudah dipergunakan di beberapa adegan, namun hasilnya ada yg kurang pas.

Saat menonton film dengan seting jaman dahulu jadi inget filmnya Dedy Mizwar. Jaman kecil dulu seneng banget kalau liat Film Wali Songo, Sunan Kalijogo atau Sunan Kalijogo vs Syeh Siti Jenar. Senengnya bukan hanya jalan ceritanya, tapi karena filmnya banyak action dan mistiknya.

Saat Sunan Kalijogo adu kanuragan dengan Syeh Siti Jenar keduanya masuk dalam tanah. Bertempur dalam terowongan2. Tapi kalau sekarang liat jadi bertanya2 juga. Beneran tidak ya sejarahnya seperti itu 😀

Secara keseluruhan film Sang Pencerah cukup bagus. Memang belum sempurna tapi merupakan salah satu film nasional berkualitas. Menurut saya 3,5 dari 5 bintang. Tapi pendapat orang lain bisa beda juga, karena film adalah selera.

Selamat Menonton

24 KOMENTAR

  1. wuah.. ulasannya eh kritiknya lumayan detail.. saya heran film2 dulu kok kualitas gambarnya buruk skl, warnanya sdh luntur, banyak bercak2 n bunyi “krtk..krtk”, belum lagi efek2nya.. kayak anak kecil (dulu saya nonton film saur sepuh, burung raksasanya culun abis!!).. kalau yg ini sy blm tahu..

    waduh komenku masuk spam ni gak muncul2..

  2. saya rasa ada yang kurang nih film….

    kalo dilihat dari alur cerita, pemain, dialog, udah sangat bagus banget… tapi coba deh perhatiin, bagi orang2 yang suka liat pemandangan yang lepas, bebas n luas seperti saya, pasti ngerasa film ini agak membosankan, walau saya akui ceritanya 100% bagus. Ini menurut saya….

  3. keren jalan ceritanya…
    tapi menurut saya cuman dapet 3 dari 5 point..
    banyak lemah di arsitektur dan tempat syuting nya.. setuju dengan kang darmawan 😀

KOMENTAR

Tulis komentar Anda
Tuliskan nama Anda disini