Review Film: Transformer 2 – Revenge Of The Fallen

Kota Shanghai China dilanda kebocoran gas dan seluruh penduduk harus diungsikan. Namun sebenarnya yang terjadi bukanlah kebocoran gas melainkan adanya robot Decepticons yang mengacau. Autobot yang bekerjasama dengan militer Amerika datang memerangi robot Decepticons. Dimana akhirnya robot pengacau kalah dan salah satunya mengungkapkan bahwa The Fallen akan kembali.

transformer2Sam Witwicky (Shia LaBeouf)  sedang ditelepon kekasihnya yang bernama Mikaela Banes (Megan Fox) ketika tidak sengaja menemukan pecahan kubus Allspark. Pecahan tersebut kemudian jatuh ke dapur dan menyebabkan alat2 rumah tangga berubah menjadi robot. Sam dan ayahnya diserang oleh robot-robot tadi. Mereka terdesak dan akhirnya dibantu oleh Bumblebee dimana alhasil seluruh rumah hancur berantakan. Informasi yang ada di pecahan Allspark ternyata berpindah ke otak Sam yang menyebabkan selalu muncul kode-kode aneh di pikirannya.



Rongsokan Megatron yang dulu dibunuh Optimus dihidupkan kembali oleh Skorpinox di bawah laut. Megatron kemudian kembali ke planet Cybertron dan bertemu The Fallen. The Fallen mengetahui bahwa informasi yang ada di Allspark telah berpindah ke Sam dan memerintahkan pengejaran terhadapnya. Disinilah kisah kejar-kejaran antara Decepticons dengan Sam, Mikaela serta teman satu asramanya Leo (Ramon Rodriguez) yang dilindungi Autobot dimulai. Dimana Sam juga berusaha untuk memecahkan kode-kode yang ada dikepalanya dengan bantuan Simmons (John Turturro) mantan agen sektor 7.

Transformer : Revenge Of The Fallen lebih banyak mengandalkan kehebatan teknik visual efek terutama detail robot yang terlihat jelas meski dalam adegan lambat. Banyak sekali robot yang ditampilkan, dari yang mini sampai super besar, bahkan robot model Terminator juga ada. Dimana bentuknya berupa gadis cantik dan seksi. Sayangnya robot Autobot yang diekpose hanyalah Optimus, Bumblebee serta 2 robot kembar yang agak idiot – Skid dan Mudflap. Perkelahian antar robot banyak berlangsung dalam adegan cepat dan berputar sehingga kadang agak memusingkan.



Saat Deceptions menyerang kota dengan bola-bola api mirip dengan adegan di Armagedon dimana terjadi hujan meteorit. Orang-orang memandang keatas kemudian bola api menabrak menara dan rubuh kebawah. Sedangkan saat kapal perang tenggelam ke dalam laut mirip dengan di film Pearl Harbour. Mungkin sang sutradara – Michael Bay, ingin mengulang kehebatan adegan di film terdahulunya.

Adegan konyol dan haru juga mewarnai film ini saat Bumblebee menangis karena ditinggal Sam untuk kuliah. Robot bisa menangis? Mungkin air radiatornya yg keluar hehe. Momenta haru lain adalah saat Mikaela menangis karena Sam terkena bom. Ada adegan tangan Sam diperban, sebenarnya itu karena luka beneran. Shia LaBeouf mengalami kecelakaan mobil tapi diluar shoting. Sehingga ada kisah yang diubah. Kalau dilihat seksama jari tangannya ada yang digips.

Walau visual efeknya cukup mumpuni namun cerita yang diusung kurang menggigit. Karakter Mikaela juga tidak begitu banyak berperan, seperti hanya sebagai pelengkap dengan gincu yang terlalu merah dan mengekploitasi keseksiannya. Bagian akhir juga menggantung dan tidak begitu mengelegar. The Fallen sangat mudah dikalahkan oleh Optimus dalam pertempuran di Piramida Giza.

Transformer:  Revenge Of The Fallen mulai diputar di Indonesia tanggal 24 Juni 2009. Dimana sampai pemutaran tanggal 28 Juni 2009 masih dijejali oleh penonton.

Durasinya cukup panjang yaitu sekitar 147 menit. Selain dibuat dalam versi biasa, Transformer 2 juga dibuat dalam format IMAX, dimana Optimus akan ditampilkan dalam ukuran sebenarnya. Ruang hardisk yang dibutuhkan untuk pembuatan 3D robot (CGI) ternyata sangat besar yaitu sekitar 140 terabyte. Sedangkan tiap frame CGI di format IMAX membutuhkan 72 jam untuk merendernya. Mobil yang digunakan sebagian besar adalah buatan General Motors.

Transformer:  Revenge Of The Fallen sangat bagus dan menghibur dengan rentetan action yang memukau sepanjang film walau dengan kekurangan jalan cerita yang kurang sip serta durasi yang sangat panjang. Saya memberi nilai 3,5 untuk 5 bintang.

Sebenarnya film ini ditujukan untuk PG-13 atau 13 tahun keatas (kalau di Indonesia rate-nya adalah remaja) sehingga tidak cocok untuk anak-anak SD atau dibawahnya karena mengandung kekerasan serta adegan seksi. Jadi jika ingin mengajak anak/keponakan Anda yang masih dibawah umur untuk menonton, lebih baik film Garuda di Dadaku, King atau yang akan tayang Ice Age 3 dan Up.

Baru kali ini juga saat nonton bioskop, iklan sebelum film adalah kampanye capres dengan durasi yang lumayan panjang  😀

Selamat Menonton

48 Comments

  1. 23 July 2009
  2. mic

Leave a Reply

*